Rabu, 14 Desember 2011

Indahnya Mencintai

Cinta merupakan salah satu kata yang dianggap beberapa orang tidak layak untuk diutarakan. Perasaan "Cinta" dianggap jauh dari modernitas bagi kalangan moderat. Tetapi perlu disadari dan diyakini bahwa Cinta adalah salah satu anugerah dari Tuhan kepada makhlukNya yang sempurna. Bisa mencintai dan saling mencintai adalah nikmat terindah yang Tuhan berikan kepada kita.

Awalnya aku beranggapan bahwa dicintai lebih enak dari mencintai, bisa melakukan apapun yang kita sukai, bisa menonjolkan ego kita dan bisa mendominasi hubungan kita. Demikian pula dengan mencintai, anggapan awal mencintai adalah suatu perasaan yang sangat menyiksa, membebani, membatasi, membuat terkekang dan bikin capek. Aku berkeyakinan bahwa anggapanku tersebut tidak hanya aku yang memiliki. Namun ternyata setelah apa yang telah aku alami, anggapankupun mulai terjawab dan ternyata semua anggapanku selama ini salah dan omong kosong saja.

Mencintai adalah nikmat luar biasa yang Tuhan berikan kepadaku sebagai jawaban atas kebodohanku selama ini. Perasaan awal tersebut muncul dengan sendirinya pasca pernikahanku dengan seorang wanita yang dikirimkan Tuhan kepadaku sebagai pendamping hidupku. Memang cinta tidak mucul dengan sendirinya, perlahan namun pasti rasa cintapun mulai menyelimuti perasaanku setelah beberapa hari kulalui bersama dengan wanita yang telah khalal untukku. Cinta menurutku lebih dominan ke tindakan giving dan perasaan ikhlas. Mencintai berarti rela memberikan apapun yang dimiliki tanpa melanggar norma agama dan hukum yang berlaku dengan tanpa mengharap imbalan apapun.

Memang umur pernikahanku barulah 2 bulan namun betapa bahagianya aku karena telah merasakan indah dan nikmatnya menjalin tali kasih untuk saling mencintai. Akhirnya akupun selalu berharap dan berdo'a agar cinta yang selama ini aku rasakan adalah karena cintaNya dan semoga Allah senantiasa mengimpunkan cintaku dan istriku untuk mengarap firdausNya, amiin...

Kamis, 25 Agustus 2011

Rekomendasi Tradisi yang Fitri

Tak terasa 1 Syawal hampir di penghujung bulan, tinggal hitungan hari lagi Ramadhan bakal ditinggalkan. Beragam persiapan yang dilakukan untuk menyambut hari yang fitri tengah dipersiapkan oleh sebagian orang. Ada yang sibuk mempersiapkan untuk mudik, ada juga yang telah mempersiapkan untuk membuat ketupat atau hidangan saat lebaran. Momentum kemeriahan saat lebaran merupakan pemanis tambahan untuk meramaikan detik-detik dimana sebagian muslim diantara kita benar-benar mendapat predikat the winner. Memang pada dasarnya acara mudik, kumpul-kumpul ataupun pesta-pesta, telah menjadi satu paket seremonial yang seolah telah melekat dan mendarah daging pada masyarakat dan tak heran pula kalau akhirnya acara-acara tersebut telah menjadi tradisi. Dan acara-acara tersebut sah-sah saja dilakukan saat lebaran tiba, selama itu tidak berlebihan dan melampaui batas.

Salah satu tradisi "recomended" yang telah ada sejak sebelum aku lahir di kampung halamanku adalah tradisi saling memberi parcel antar keluarga dan antar tetangga "irim-iriman". Tradisi ini memang telah melekat dan terus berjalan hingga sekarang, seorang adik memberi parcel kepada sang kakak, seorang anak memberi parcel kepada orang tuanya, seorang keponakan memberi parcel kepada om/tantenya, dan antar tetangga saling memberi parcel. Adapun isi parcel tersebut sangat variatif tergantung dari kemampuan masing-masing personal, namun yang seolah telah menjadi syarat utama dari isi parcel tersebut adalah terdapat gula dan teh.

Kenapa harus ada gula dan teh? itu mungkin yang terlintas dipikiran sobat blogger,,, sampai saat ini hasil pengamatanku memberikan konklusi bahwa gula dan teh adalah simbol pasangan ideal yang dijadikan orang-orang kampung terdahulu untuk dihidangkan dan dinikmati bersama guna manambah kehangatan dan kedekatan antar keluarga, teman maupun tetangga. Dan salah satu yang unik dari prosesi acara irim-iriman tersebut adalah jika parcel tersebut diberikan oleh anak kecil, maka yang menerima parcel tersebut di haruskan untuk memberi uang tip atau angpao kepada anak kecil tersebut. Sudah sewajarnya jika tradisi irim-iriman yang ada dikampungku ini merupakan acara yang sangat dinanti-nanti oleh sebagian anak kecil (pengalaman pribadi, he...).

Memang setiap keluarga, daerah dan wilayah memiliki tradisi yang beragam, oke saja jika itu tatap dijalankan dan bahkan dilestarikan, selama itu tidak melanggar syariat ajaran agama dan selama itu semua dilakukan atas dasar ukhuwah islamiyah. Tradisi irim-iriman yang ada dikampungku adalah tradisi baik yang saya rekomendasikan ke semua sobat blogger,,, lalu apalagi tradisi baik yang sobat rekomendasikan untuk kita???

Senin, 15 Agustus 2011

Momentum Yang Tak Terlupakan

Lebih dari sebulan tak bersua di blog membuat jari jemariku terasa gatal dan ingin rasanya menari-nari diatas keyboard laptop jadulku. Akhirnya hari ini tepat dimana umat Muslim tengah menjalankan puasanya di bulan Ramadhan yang ke 15, aku menyempatkan diri untuk sekedar melepas rindu dan sedikit mencairkan kebekuan yang ada di celah-celah otakku. Kali ini aku ingin sedikit menceritakan beberapa momentum yang telah aku lewatkan untuk menuliskannya pada diary onlineku ini.

Sesuai dengan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW bahwa ada tahapan dimana seorang muslim sebelum menikah dianjurkan untuk melalui tahap Khitbah, ini dibuktikan ketika Muhammad SAW mengkhitbah Siti Khadijah kepada walinya dan Ali bin Abi Thalib saat mengkhitbah Fatimah binti Muhammad. Dan syukur Alhamdulillah tepatnya pada tanggal 3 Juli 2011 saya telah mengkhitbah seorang wanita muslimah yang berasal dari kota Cirebon pada orang tuanya. Tak ada masa pacaran saat-saat sebelum khitbah, hanya dengan Istikharahlah kami berdua yakin bahwa Allah telah menunjukkan jalan kepada kami untuk mengikat tali pernikahan. Acara pernikahanpun insya Allah akan diselenggarakan pada petengahan bulan Oktober.

Persiapan pernikahanpun sedikit demi sedikit telah diselesaikan, hingga melalui tahap Pra wedding. Secara pribadi aku tak begitu interest dengan acara yang menurutku absurd mengenai makna, tujuan dan manfaatnya itu, bagiku acara tersebut hanya mendatangkan banyak mudharat dibandingkan dengan manfaatnya. Namun dikarenakan itu semua adalah permintaan dari calon mertuaku, maka dengan sangat terpaksa akupun mengiyakan untuk menjadi objek pemrotetan bersama dengan calon istriku. Tak kalah akal, diawal sebelum aku mengiyakan permintaannya, aku membuat komitmen kepada calon mertuaku tersebut bahwa diacara pra wedding nanti aku tak mau sedikitpun menyentuh calon istriku dengan alasan dia masih belum mukhrimku, dan akhirnya mungkin dengan perasaan kecewa ia pun mengiyakan permintaanku.

Waktu terus bergulir hingga akhirnya bulan yang dinanti-nantipun tiba " Ramadhan "...... ya di bulan yang penuh berkah ini ada beberapa amanah yang telah dibebankan kepadaku, kali ini aku ditunjuk untuk menjadi Majlis DIKDASMEN (Pendidikan Dasar dan Menengah) Muhammadiyah Cabang Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah, majlis ini bertugas untuk mengawasi dan mengaudit manajemen pada amal usaha pendidikan dari tingkat SD sampai SLTA milik Muhammadiyah. Disamping itu Ramadhan kali ini aku mendapat jadwal untuk mengisi kultum secara bergilir pada masjid dan musholla yang terletak di tempat kelahiranku ini. Tak hanya itu pada bulan puasa ini aku juga ditunjuk untuk menjadi kepanitiaan LAZIS (Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah) yang bernaung pada organisasi islam Muhammadiyah.

Begitulah beberapa momentum yang menurutku termasuk dalam kategori PENTING dalam hidupku yang baru aku share-kan ke rekan-rekan blogger. Semoga sedikit tulisan jelek ini bisa mempertajam daya imajinasi dan daya pemikiran kita agar tetap selalu berkarya, berkreasi dan berinovasi, amiin.....